Juli 3, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged buku gratis, buku pelajaran, download, materi pelajaran, sma, smk, smp, www.depdiknas.go.id, www.pusbuk.or.id, www.sibi.or.id
Bagi para siswa yang telah mendapatkan sekolah, apalagi sekolah favorit, tentu harus banyak bersyukur, sampai hari ini masih banyak orang tua dan siswa pontang-panting berburu ke sekolah lain setelah daftar mereka terlempar dari jurnal Penerimaan Siswa Baru (PSB) yang selalu diupdate setiap saat.
Ada kabar gembira lagi bagi para siswa dan orang tua dari dunia pendidikan, khususnya menyangkut buku pelajaran. Mulai tahun ini, Departemen Pendidikan Nasional menyediakan buku gratis untuk materi pelajaran di sekolah. Bukan gratis-gratis amat sih, tetapi materi pelajaran tersebut dapat didownload dari webste ini : www.pusbuk.or.id, http://bse.depdiknas.go.id, www.depdiknas.go.id atau www.sibi.or.id.
Sebagai orang tua, kita tentu sangat bergembira menyambut kebijakan perbukuan baru yang diambil oleh Depdiknas tersebut. Mudah-mudahan kebijakan ini dapat mengatasi carut marut masalah buku pelajaran di sekolah-sekolah kita.
Selama ini, kita kayaknya seperti “dipaksa” untuk membeli buku-buku pelajaran yang dijual di sekolah, meskipun menurut peraturan tidak boleh, tetapi pada prakteknya jalan terus.
Buku-buku yang harus dibeli tersebut kadang-kadang mutunya di bawah standar, baik dari segi isi, disain, kertas maupun penjilidannya. Dari segi harga, kadang-kadang juga jauh lebih mahal dibanding harga yang ada di pasaran. Buku-buku tersebut kayaknya memang dirancang untuk dipakai sekali saja dan tidak bisa diwariskan kepada adik-adik kelasnya karena setiap tahun selalu berubah, meskipun kadang-kadang perubahannya tidak signifikan, misalnya hanya pada sampul atau ilustrasinya saja.
Dengan kebijakan Depdiknas yang baru ini, kayaknya buku-buku tersebut bisa diwariskan kepada adik-adik kelasnya karena buku-buku tersebut dirancang untuk waktu pemakaian 5 tahun.
Kita sangat welcome dengan kebijakan ini, kita berharap niat baik ini terus bisa dijaga sampai pada implementasinya di lapangan, kalau toh harus beli (karena buku tersebut memang harus dicetak), harganya juga tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
Kalau hal tersebut bisa dilaksanakan, maka akan sedikit bisa mengurangi beban para orang tua dalam rangka menyiapkan generasi muda yang akan menentukan maju mundurnya bangsa ini di masa depan. Insyaallah
Juli 2, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged depok, psb, siswa baru, pendaftaran, penerimaan, tahun ajaran baru, psb depok, murid baru, smp, sma, smk
Untuk keperluan penerimaan siswa baru tahun 2008 ini, Kantor Dinas Pendidikan Depok meluncurkan website “Sistem Informasi Penerimaan Siswa Baru Periode 2008” yang alamatnya dapat diakses di www.psb-depok.com. Website tersebut berisi segala sesuatu informasi yang berkaitan dengan penerimaan siswa baru di SMP, SMA, SMK Negeri di Depok. Di website ini kita dapat memantau langsung daftar siswa yang diterima maupun tidak diterima di suatu sekolah, lengkap dengan daftar nilai dan urutannya.
Mereka yang mempunyai nilai UAS BN bagus tentu akan sedikit tenang memilih sekolah yang menjadi favoritnya. Mereka yang mempunyai nilai pas-pasan, harus rajin memelototi jurnal nilai dan harus siap-siap mencari sekolah lain jika terlempar dari jurnal tersebut. Mereka yang nilainya rendah, ya harap tahu diri untuk tidak mendaftar di sekolah idamannya. Mau daftar sih boleh-boleh saja, tapi akan sia-sia.
Dengan sistem informasi ini, penerimaan siswa baru menjadi lebih transparan dan memperkecil peluang main lewat jalan belakang seperti yang sering digunjingkan selama ini. Insya allah juga lebih efisien dan memuaskan semua pihak.
Salah satu dampak positif dari penerimaan model ini adalah ibu-ibu rumah tangga yang biasanya lebih banyak berkutat dengan urusan dapur, jadi sedikit melek dengan dunia internet. Mereka mau tak mau harus menemani putra-putri tercintanya untuk memantau terus jurnal yang urutannya selalu berubah setiap saat tersebut.
Mereka yang diterima tentu harus banyak bersyukur karena mendapat kesempatan untuk bersekolah di sekolah negeri yang umumnya biayanya lebih murah dengan mutunya lebih baik. Mereka yang tidak diterima, juga tidak perlu berkecil hati, sekarang ini banyak sekolah swasta yang mutunya tidak kalah dengan sekolah negeri.
Yang jelas, setelah masa pengumuman ini, para orang tua sisa harus mempersiapkan dana yang tidak sedikit jumlahnya, untuk keperluan pendaftaran, pembelian buku, seragam dan perlengkapan sekolah lainnya. Demi masa depan putra-putri tercintanya, semuanya siap dilakukan oleh orangtua.
Dan jangan lupa sertakan juga anak-anak kita dalam setiap doa kita, “Rabbi habli minash sholihin”, Ya Allah tumbuhkanlah anak-anak kami menjadi generasi yang soleh dan solihah, Amiin.
April 29, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged depok, hari jadi, ke-9, pasar, terbakar

Ada dua hal kontras terjadi pada hari Ahad tanggal 27 April 2008, bersamaan dengan hari jadi Kotamadya Depok yang ke-9.
Yang pertama, tentunya sudah ditunggu-tunggu dan direncanakan dengan matang, adalah berbagai aktifitas yang dilaksanakan dalam rangka mensyukuri hari jadi tersebut.
Yang kedua, yang tentunya sangat tidak diharapkan, adalah terjadinya musibah kebakaran di pasar Depok Baru pada malam harinya. Pada kejadian ini, puluhan kios yang menjual berbagai jenis dagangan terbakar habis. Kerugian dari segi materi maupun immateri tentu sangat besar.
Kita hanya bisa berharap mudah-mudahan semua pihak dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Tidak berlebihan bersukacita dalam menyikapi berbagai kenikmatan yang telah kita terima dan tidak larut dalam kesedihan ketika musibah menimpa kita.
Kata guru kita di majlis ta’lim di kampung, kita mah kudu sabar dan syukur dalam menyikapi semua kejadian yang kita hadapi. Mudah-mudahan ya !
April 28, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged depok, telepon rumah, telkom

Beberapa waktu lalu kami punya dua unek-unek terpendam soal telepon rumah. Pertama, sudah lebih dari dua bulan ini telepon tersebut mengalami gangguan. Saat menelpon atau menerima telepon yang terdengar hanya suara kresek-kresek saja, untuk bisa menangkap pembicaraan lawan kita harus bekerja ekstra “keras”. Kedua, Tagihan bulanannya menurut kami cukup mahal dibanding dengan frekuensi pemakaiannya. Yang paling banyak memakai telepon itu hanya anak-anak untuk menghubungi teman-temannya soal PR sekolah.
Kami sempat mendiskusikan dengan keluarga soal kemungkinan memutuskannya dan menggantinya dengan telepon fixed sejenis lainnya. Sekarang kan banyak pilihan, ada yang menawarkan diri sebagai “Bukan telepon biasa” (yang ini dari temannya segrup ya), yang lain menawarkan paket “Ngorbit” (Ngobrol irit! kayaknya gak nyambung akronimnya ya ?), yang lainnya lagi menawarkan paket “Paket Untung”, semakin sering menelpon atau ditelpon kita akan semakin untung, pokoknya macem-macem deh!
Tapi sekarang unek-unek itu harus kami pikir ulang lagi. Titik baliknya terjadi Kamis 24 April 2008 lalu saat kami iseng-iseng mengajukan komplain ke nomor 147. Saat itu petugas menjanjikan bahwa komplain akan ditangani sesegera mungkin, jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak ada perbaikan, akan dibebaskan dari abunemen untuk tagihan bulan depan.
Semula kami sempat syuudlon bahwa complain handlingnya pasti lelet dan tak gratis pula. Ternyata responnya lebih dari yang dijanjikan. Hari Jumat petugas Telkom datang dan dalam waktu singkat masalah sambungan selesai. Semuanya free tidak ada charge serupiah pun. Dan yang lebih penting lagi, petugasnya juga cukup smart dan responsif.
April 21, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged angkot, citayam, depok, terminal, transportasi
Ada-ada saja cara pengusaha untuk menarik konsumen, termasuk dalam soal usaha angkot.
Di Depok, tepatnya di trayek D 07 jurusan Terminal–Citayam, ada sebuah angkot yang interiornya didisain dengan unik bak sebuah rumah tinggal. Lantainya dipasangi keramik berpola, joknya didisain dan ditata seperti sofa. Untuk menjaga kebersihan angkot, di pintu masuk dipasang keset agar setiap penumpang membersihkan dulu sepatu dan sandalnya yang belepotan karena tanah di sekitar jalur tersebut berwarna coklat dan lengket di alas kaki.
Mungkin ini baru rintisan awal dan masih dalam tahap uji coba. Siapa tahu di masa datang fasilitasnya akan ditambah lagi, misalnya dipasang AC dan ada fasilitas hotspot-nya, sehingga sambil ngangkot kita juga bisa nge-net, kalau pun jalanan Depok macet, kita nggak bakalan BT deh.
Kita tunggu ide-ide kreatif selanjutnya. Kalau fasilitasnya semakin lengkap dan nyaman, kan kita-kita juga, para user angkot, yang akan diuntungkan. Eh siapa tahu, sebentar lagi akan muncul angkot dengan fasilitas hotel bintang 5 !
April 20, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged angkot, depok, macet, terminal

Jumlah angkot di kota Depok kayaknya sudah terlalu banyak, hal seperti ini kadang kerap menimbulkan masalah. Pada jam-jam tertentu, angkot sering menjadi biang kemacetan, sementara dari sisi lain, dari sisi angkot sendiri, jumlah yang terlalu banyak tersebut seringkali membuat persaingan tidak sehat, atau bahkan banyak angkot yang kosong atau terisi hanya satu atau dua orang.
Tapi bagaimanapun keberadaan angkot sendiri bagi kota seperti Depok ini sangat dibutuhkan. Angkot menyediakan akses transportasi yang murah bagi masyarakat, angkot menyerap cukup banyak tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, mulai dari sopir, calo, tukang bensin, montir, petugas terminal dan lain sebagainya. Angkot juga memberikan kontribusi langsung bagi penerimaan pendapatan pemerintah, paling tidak setiap kali masuk terminal, mereka membayar retribusi Rp 200,- . Di samping itu, angkot juga menjadi pendorong bagi kemajuan suatu wilayah, kawasan yang dilalui angkot biasanya lebih maju dari yang tidak.
Yang mungkin dibutuhkan saat ini adalah kemauan dan kesediaan semua pihak untuk mau menata dan ditata, bagaimana agar keberadaan angkot di Depok ini semakin memberi nilai tambah bagi semua pihak, baik untuk kemajuan ekonomi, untuk kebersihan dan keindahan kota serta untuk kenyamanan bagi para pengguna. Lalu siapa pihak-pihak itu ? Ya kita semua, baik investor, operator, regulator, aparat keamanan dan lain-lainnya, termasuk kita sebagai user.
April 17, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged ciliwung, cipayung, depok, jembatan serong, kali baru, krukut, pancoran mas
Jembatan Serong berdiri tegak di atas Kali Baru, yang membentang dan mengalirkan air dari Bogor meliuk-liuk hingga ke Kali Krukut dan Ciliwung Jakarta.
Dari aliran sungai ini kita bisa memperkirakan bahwa di Jakarta akan terjadi banjir atau tidak. Jika aliran sungai ini deras dan cukup keruh, maka kemungkinan besar beberapa wilayah di Jakarta akan terjadi banjir. Jadi penduduk Jakarta jangan bergembira terlebih dahulu, bahwa kalau di Jakarta cuacanya cerah itu berarti bebas banjir. Tunggu dulu, di cuaca di Bogor dan Depok bagaimana ? Kalau di kedua daerah itu hujan lebat, maka orang-orang Jakarta harus siap-siap menerima kiriman air. Kalau terang, sementara waktu boleh berlega hati.
Gambar ini diambil di pagi hari, setelah semalaman Bogor diguyur hujan nan lebat. Jadi warning untuk Jakarta ! siap-siap menerima kiriman “rejeki” dari Bogor.
April 16, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged cipayung, depok, jembatan serong, pancoran mas
Bagi warga Depok, nama Jembatan Serong insyaallah tentu bukan nama yang asing. Begitu turun di terminal atau stasiun kereta api, ketika kita bertanya nama tersebut, maka orang akan dengan cepat dan senang hati menunjuki angkot yang menuju kesana. Tempat ini memang sangat mudah untuk dijangkau. Kalau dari terminal Depok kita bisa langsung naik angkot 07, dari Citayam, setelah kita berjalan ke arah barat dari stasiun kitra-kira 200 m, kita juga bisa langsung naik angkot yang sama.
Nama Jembatan Serong tidak ada sangkutpautnya dengan ketidaksetiaan seorang kekasih kepada dambaan hatinya. Nama tersebut betul-betul murni dan tidak ada maksud tersembunyi di baliknya. Jembatan Serong bentuknya memang menyerong di perempatan, ke arah utara ke jurusan Depok, ke selatan jurusan Citayam, ke barat ada tempat pembuangan akhir sampah Cipayung dan ke arah barat laut ke jurusan Rawadenok/Arco.
Gambar jembatan tersebut diambil dalam keadaan temaram di pagi hari, ketika matahari belum menampakkan sinarnya. Pada saat seperti itulah jembatan ini menjadi saksi bagi penulis blog ini dalam memulai rutinitas hari-hari dalam kehidupannya.
April 14, 2008
· Disimpan dalam :: semua tentang depok · Tagged cipayung, depok, jembatan serong, pancoran mas
Bismillah, assalamu alaikum !
Sejak bulan September 2006 kami sekeluarga tinggal di sebuah kampung di Depok, tepatnya di Jembatan Serong, Cipayung, Pancoran Mas, Depok. Lokasi tepatnya dari udara bisa dilihat di wikimapia.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa kami memilih tinggal di kampung tidak di komplek perumahan. Pertama, kami ingin belajar dan menimba ilmu dari kearifan dan kehangatan warga setempat yang telah turun temurun tinggal di kampung tersebut. Kedua, kami ingin mencari kawasan hunian dengan lingkungan yang masih hijau yang masih ada suara burung berkicau, kodok mengorek dan kambing mengembik. Ketiga, ini mungkin alasan yang paling kena, ya karena kemampuan kami hanya mampu untuk membeli sebuah gubuk kecil di kampung bukan di perumahan.
Alhamdulillah, selama hampir dua tahun ini kami tinggal di kampung tersebut, kami sekeluarga enjoy-enjoy saja. Hubungan ketetanggaan degan warga sekitar alhamdulillah baik. Sekolah anak-anak juga berada tak jauh-jauh dari tempat kami tinggal, sehingga tak perlu lagi mengeluarkan ongkos transport. Mamahnya anak-anak juga sudah mulai merintis usaha kecil-kecilan, Rumah Kado Bunayya.
Yang mungkin agak sedikit repot, mungkin ya ayahnya si anak-anak. Sebagai buruh yang tempat kerjanya berlokasi di Jakarta Pusat, setiap hari harus menghabiskan waktu di jalanan pulang pergi sekitar empat jam, berdesak-desakkan di angkot dan bergelantungan di KRL. Tapi insya allah juga enjoy saja.
Blog ini diniatkan sebagai ungkapan rasa terima kasih kami sekeluarga untuk warga Depok yang telah menerima kami dengan sangat baik. Isinya insyaallah berupa laporan pandangan lensa yang kami tangkap dari kamera saku yang biasa menemani kami kemana-mana.