:: Depok, Kota Lautan Angkot

Jumlah angkot di kota Depok kayaknya sudah terlalu banyak, hal seperti ini kadang kerap menimbulkan masalah. Pada jam-jam tertentu, angkot sering menjadi biang kemacetan, sementara dari sisi lain, dari sisi angkot sendiri, jumlah yang terlalu banyak tersebut seringkali membuat persaingan tidak sehat, atau bahkan banyak angkot yang kosong atau terisi hanya satu atau dua orang.

blogangkut41 Tapi bagaimanapun keberadaan angkot sendiri bagi kota seperti Depok ini sangat dibutuhkan. Angkot menyediakan akses transportasi yang murah bagi masyarakat, angkot menyerap cukup banyak tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung, mulai dari sopir, calo, tukang bensin, montir, petugas terminal dan lain sebagainya. Angkot juga memberikan kontribusi langsung bagi penerimaan pendapatan pemerintah, paling tidak setiap kali masuk terminal, mereka membayar retribusi Rp 200,- . Di samping itu, angkot juga menjadi pendorong bagi kemajuan suatu wilayah, kawasan yang dilalui angkot biasanya lebih maju dari yang tidak.

Yang mungkin dibutuhkan saat ini adalah kemauan dan kesediaan semua pihak untuk mau menata dan ditata, bagaimana agar keberadaan angkot di Depok ini semakin memberi nilai tambah bagi semua pihak, baik untuk kemajuan ekonomi, untuk kebersihan dan keindahan kota serta untuk kenyamanan bagi para pengguna. Lalu siapa pihak-pihak itu ? Ya kita semua, baik investor, operator, regulator, aparat keamanan dan lain-lainnya, termasuk kita sebagai user.

1 Response so far »

  1. 1

    bay said,

    menurut saya, keberadaan moda transportasi massal di kota berpenduduk > 1.2 juta ini sangat perlu diperhatikan, mulai dari infrastruktur pendukung, berupa jalan, yang dapat menghubungkan kawasan-kawasan di Depok sehingga memudahkan aktivitas warga.
    Depok berkembang sebagai kawasan didalam wilayah kabupaten Bogor sampai pada tahun 1999 memisahkan diri menjadi Kota Depok. Kemudia Kota depok mengambil wilayah2 kabupaten Bogor seperti kecamatan Limo, sawangan, cimanggis, dan Bojonggede, yang sebelumnya telah menjadi kecamatan yang berkembang sendiri-sendiri. Hal ini menyebabkan pembangunan di Kota depok tidak sentris, seolah2 depok tidak memiliki downtown/ pusat kota.
    Kembali lagi ke masalah tRansportasi, Jaringan jalan raya di Depok nampaknya masih sangat sedikit, untuk menghubungkan Sawangan (Pusat pertumbuhan ekonomi baru di Depok) dengan Margonda hanya ada jalan raya sawangan yang selalu macet di sepanjang ruas. Oleh karena itu usul pertama saya untuk memperbaiki sistem transportasi di depok adalah memperbaiki jaringan jalan. Bukan hanya berdampak pada lancarnya transportasi, tapi juga membuka daerah pembangunan baru di kota depok.
    Kemudian, Moda transportasi di Depok pun harus diganti menjadi bus angkutan dalam kota yang dikelola oleh pemerintah (semacam Damri atau Busway), karena dapat mengurangi volume kendaraan yang melaju di jalan serta mengurangi volume gas buangan. Akan lebih bagus lagi jika dibuat KRL Komuter di Depok, yang menghubungkan seluruh kecamatan di depok.
    Penertiban PKL dan Gepeng serta Preman juga perlu. Karena sepertinya jumlahnya selalu bertambah setiap tahun. Depok harus tegas terhadap pendatang yang tidak memberikan kontribusi bagi kota dan justru merepotkan, seperti gelandangan, penjual kios liar, preman, dan sebagainya. Hal ini mengganggu kenyamanan warga yang bertransportasi, khususnya angkot, dan kereta KRL. Waktu saya SMP, tahun 2002-2005 lalu, sangat jarang ditemui pengamen cilik di daerah jalan nusantara. Tapi sekarang, bahkan pengamen sudah sampai ke sawangan!!
    Selanjutnya, kesadaran para pengelola angkutan umum tentunya, baik itu sopir, pemilik, serta manajemennya itu sendiri, perlu kerjasama dengan pemerintah.
    Kemudian perencanaan/ masterplan Kota yang baik harus dibuat oleh pemerintah kota agar depok tidak menjadi kota yang maju menuju keruntuhan ekonomi dan sosial. Pembangunan melebar di depok harus dibatasi untuk mengurangi kepadatan kota, harus diganti dengan pembangunan keatas, seperti rusunami atau apartemen bersubsidi di kawasan padat penduduk (seperti di kampung lio, belakang pasar dewi sartika), hal ini dapat mempercantik kota dengan skyscraper building serta meninggalkan lahan kosong untuk taman umum.

    ::> bay
    Terima kasih atas masukan dan informasinya yg cukup panjang. Mudah2an bisa menjadi bahan masukan para pengambil kebijakan di Kota Depok, termasuk mereka2 yg bakal menjadi anggota legislator kita, Insyaallah

    Yangt terakhir, WALIKOTA JANGAN NARSIS, JANGAN POSTERNYA DIPASANG DI TIAP SUDUT JALAN, apalagi seruan untuk makan menggunakan tangan kanan, ga banget, untuk kota sebesar Depok. Harusnya masyarakan dianjurkan untuk menjaga ketertiban dan keindahan kota, bukan dianjurkan untuk makan dengan tangan kanan. WALIKOTA APA GURU TK SIH?


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: