:: Uli Bakar Stadebar

Ada yang “wajib” saya lakukan setiap hari setiap kali pulang dari kerja di malam hari, yaitu mencarikan oleh-oleh, entah apa bentuknya, buat tiga gadis saya di rumah.

Oleh-oleh ini setiap hari akan ditunggu mereka. Kegembiraan akan langsung muncul di wajah mereka manakala ayahnya pulang membawa sebuah tentengan kecil. Sebaliknya, wajah-wajah kecewa akan langsung muncul begitu mendapati ayahnya muncul dengan tangan kosong.

Oleh-oleh ini sebenarnya soal sepele saja, tidak ada syarat harus ini harus itu, yang penting pokoknya ada. Tapi justru karena urusan sepele ini kadang kita harus “berpikir keras”, apalagi yang harus dibawa malam ini untuk mereka. Kemarin sudah martabak, kemarinnya lagi gorengan, dua atau tiga hari yang lalu sudah kue, kadang-kadang juga buah. Terus apalagi ?

uli

Untuk urusan oleh-oleh ini, salah satu pilihannya adalah uli bakar yang dijual abang di stasiun Depok Baru sebelah timur utara. Harganya seribu per keping. Ulinya langsung dibakar ditambahi serundeng kelapa/gula pasir sangrai. Kalau dimakan pas lagi hangat di saat-saat udara dingin rasanya cukup mak nyus. Tekstur ulinya lembut dan campuran kelapanya juga pas. Anak-anak senang, mamahnya anak-anak juga senang.

Tetapi ada satu hal yang menarik di balik uli bakar itu, yaitu kegigihan si abang uli itu sendiri.

Dia bercerita bahwa  setiap harinya dia bisa menjual 300 potong uli bakar. Untuk mendapatkan 300 potong itu, dia menghabiskan beras ketan sekitar 14 liter, ditambah kelapa, gula, arang, sewa lampu dan lain-lain mungkin modalnya sekitar Rp. 150.000,-.

Kalau setiap malam dia bisa menjual Rp 300.000,- , berarti dia bisa mengantongi untung bersih Rp 150.000,- per malam atau Rp 4.500.000, bersih per bulan. Lumayan juga ya ? Kalah dong penghasilan saya yang harus pergi pagi pulang malam setiap harinya  ! Hehe… Tapi semua harus disyukuri ya.

Dia bilang ya lumayan lah hasilnya jualan uli baker ini. Dari usaha yang kelihatannya sepele itu, dia bisa menafkahi anggota keluarganya.

Yang penting usaha dan halal ya Bang !

6 Tanggapan so far »

  1. 1

    Poet said,

    Wah, saya juga suka uli bakar. itu khas Depok banget ya Pa.. dulu nenek saya juga pernah jualan Kue Pancong dan Kue Apem, semuanya khas Depok….

    ::> Poet
    Ya setiap lebaran, kami juga pasti mendapat jatah kue lebaran yang khas kota Depok dari para tetangga yang sangat baik hati….

  2. 2

    Artikelnya simple sekali … tapi saya jadi beneran pengin tuh makanan … mungkin bisa buat enterpreneur … per potong berapa ya bang???

    ::> wendy achmad
    Per potong seribu bang ! ayo kita borong…, hehe…

  3. 3

    andri said,

    Ceritanya menarik mas…
    semoga bisa menginspirasi yang lainnya🙂

    ::> andri
    Amiin, sebenarnya masih banyak peluang yang bisa digarap di sekitar kita ya, mudah2an kita bisa selalu mengasah kepekaan kita…

  4. 5

    wati said,

    awal kisahnya biasa tp makna di dalamnya yang ok banget,diman setiap orang yang mau berusaha pasti Alloh selalu memberikan yang terbaik.

    ::> wati
    Mudah2an Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk terus mau belajar..

  5. 6

    riyanto said,

    perlu dibudidayakian sebagai sar


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: